Jumat, 03 Juli 2009

PEKAN RAYA JAKARTA DI JADIKAN AJANG PUNGLI…!!

Jakarta | Kolom Investigasi:
Tidak bisa di pungkiri bila selama ini keberadaan para pedagang kaki lima ibaratnya hanya menjadi sapi perahan saja. Di sisi lain karena terbentur Modal merekapun masih di hadapkan lagi dengan PUNGLI (Pungutan liar) yang di lakukan oleh Oknum TNI.
Para pedagang yang mengadu nasib di luar areal PRJ (Pekan Raya Jakart) sepanjang Ring Tiga wilayah PS Mobil Kemayoran Jakarta Pusat hanya bisa pasrah dan inipun sudah berjalan selama PRJ di Kota Baru Bandar Kemayoran.
Jumlah para pedagang di luar areal PRJ berjumlah sekitar 50 pedagang lebih dan belum termasuk pedagang kerak telor dan lain sebagainya. Jumlah sewa lapak yang di duga di PUNGLI oleh Oknum TNI bernama BASRUL berkisar antara Rp. 7 juta, 5 juta, 3 juta, itupun hanya lapak saja. Belum lagi pedagang kerak telur dan lain-lain berkisar Rp. 400.000,- di kenakan perpedagang.

Para pedagang selama ini mengeluhkan kisaran harga sewa lapak yang di rasa sangat memberatkan. Namun meraka (Para Pedagang) hanya bisa pasrah ngalah, terlebih lagi justru pengelolaan tidak tranparan padahal jelas pihak pengelola PPKK (Bekas Bandar Udara Kemayoran) hanya mengenakan sewa tarif Rp. 1,5 juta. Sungguh sanggat mengurkan pungutan liar itu (PUNGLI) karena hal tersebut di lakukan dan di koordinir oleh Oknum TNI yang seakan menghalalkan terhadap tindakan PUNGLI (pungutan liar).
Ketika Tim mengkonfirmasi ke salah satu pedagang mengatakan’’ Saya jualan hanya modal pas pasan, ada saja ulah seseorang yang seakan menari di atas luka penderitaan pedagang kecil (Pedagang Kaki Lima) bukanya di bina dan di bimbing bagai mana cara meningkat kan usahanya malah di tinndas dan di peras bagaikan Sapi Perah saja. Ungkap salah satu Pedagang yang mana engan untuk di sebutkan namanya.
Tim Investigasi ketika mengkonfirmasi ke HUMAS PPKK ADI SUPRIADI mengatakan, BASRUL bukan karyawan PPKK dan bukan juga Rekanan. Jadi siapa saja boleh meminta lokasi jualan dan selama ini kami Cuma memungut ke pedagang 1,5 juta per lapak, tanpa Tenda, Air, Listrik itu kami tidak menyediakan listrik itu di luar tangung jawab pihak kami Pelaksana Pengendalian Pembangunan Komplek Kemayoran (DP3KK). Ungkap ADI SUPRIADI.

Tim Kolom bertandang ke BASRUL tidak ada di tempatnya.
Selama ini apa yang di rasakan oleh para pedagang kaki lima hanya bisa pasrah terlebih mereka sewa lapak justru yang bertanda tangan di kwitansi Basrul dari oknum TNI yang masih aktif bukan dari PPKK.
Hal ini menjadi beban benak para pedagang karena sewa tempat di dalam JFK berkisar antara Rp. 40 juta per bulan. Kendala ini yang menyebabkan para pedagang untuk bisa menyiasati dengan cara menaikan tariff harga makanan justru ini yang mengakibatkan complain para pengunjung, para pedagang berdalih harga sewa tempat mahal imbas dari pungutan liar itu. (Tim Investigasi) | P0st By: S41f03l ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar