Selasa, 23 Juni 2009

“Pasien Tewas, Diduga Korban Malpraktek”

BERAU- Siti Aisah telah meningal dunia pada 4 Mei 2009 lalu, ia adalah pasien rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Rivai Tanjung Redeb Kabupaten Berau. Penderita tumor abdomen ini diduga telah menjadi korban malpraktek seorang dokter di RSUD A. Rivai Tanjung Redeb, Berau.

Sebelumnya Siti Aisah di rawat di Rumah Sakit AW Syahrani Samarinda namun dikarenakan penyakit yang dideritanya adalah tumor abdomen (tumor perut) tumor dikantong kencing (Kanker ganas) stadium 4, maka dokter Spesialis AW Syahrani, Samarinda, tidak sanggup melakukan operasi bedah dengan pertimbangan bahwa penyakit kanker ganas yang diderita oleh pasien sudah masuk kealiran darah dan telah menyebar keseluruh tubuh pasien.

Sehingga sangat sensitif terjadi pendarahan terus menurus jika dilakukan operasi kecuali dengan ilmu terapi, itupun kemungkinan sembuhnya kecil. sehingga yang dapat diberikan hanya terapi supportif untuk memperbaiki kondisi pasien tetapi dalam upaya menghilangkan penyakitnya tentunya sudah tidak bisa lagi.

Setelah 16 hari dirawat di RS AW Syahrani Samarinda serta sesuai dengan hasil Rontgen dan pertimbangan dokter Spesialis Bedah yang menangani penyakit Siti Aisah menyarankan kepada suami dan keluarga pasien agar Aisah dibawa pulang ke rumah sambil mencari pengobatan alternatif sebab secara medis penyakit pasien tidak memungkinkan lagi dilakukan operasi.

Atas pertimbangan dan saran dokter spesialis Bedah AW Syahrani Samarinda maka suami pasien, Agus Salim, membawa isterinya pulang ke rumah yang beralamat di jalan Milono, Kota Tanjung Redeb, Kabupaten Berau.

Namun setelah 5 hari Aisah berobat jalan dirumahnya Aisah kembali mengalami pendarahan sehingga sang suami Agus Salim terpaksa membawa isterinya berobat ke RSUD Abdul Rivai Tanjung Redeb dengan harapan dapat dilakukan penanganan pengobatan untuk menghentikan pendarahan terhadap isterinya.

Setelah mendapatkan perawatan di RSUD Abdul Rivai Tanjung Redeb selama lebih kurang 1 bulan kondisi kesehatan Siti Aisah tidak mengalami peningkatan yang siginifikan sehingga Dr.Indra yang menangani penyakit Aisah berencana untuk melakukan operasi bedah dengan maksud akan mengangkat tumor yang bersarang ditubuh Aisah.

Sesuai dengan pertimbangan Dokter Spesialis Bedah AW Syahrani Samarinda yang menangani penyakit Aisah sebelumnya Suami Aisah Agus Salim tidak bersedia menandatangani surat peryataan operasi yang diajukan oleh perawat RSUD dengan alasan dan pertimbangan bahwa Dokter Spesialis Bedah saja tidak berani melakukan operasi atas kondisi kesehatan isterinya saat itu yang sudah stadium 4.

Tetapi dr.Indra tidak mempedulikan surat keterangan dari Dokter Spesialis Bedah AW Syahrani yang menerangkan bahwa pasien tidak boleh dioperasi, malah sebaliknya dr.Indra tetap bersikeras untuk melakukan operasi serta meyakinkan keluarga pasien bahwa dirinya mampu dan sanggup mengangkat tumor yang bersarang di tubuh Aisah tersebut.

Orangtua Aisah yang sudah tidak tahan lagi melihat anaknya menderita kesakitan ditambah dengan sikap pernyataan dr.indra yang merasa mampu dan sanggup mengatasi penyakit pasien tersebut. Akhirnya orangtua Aisah bersedia menandatangani pernyataan operasi tersebut sehingga terkabullah keinginan dr.Indra melakukan operasi terhadap pasien Aisah pada 25 April lalu.

Namun setelah dilakukan operasi bedah tubuh Aisah terus menerus mengalami pendarahan, melihat pendarahan yang tiada hentinya yang dialami Aisah, suami dan keluarga pasien jadi panik dan ketika itupun langsung mendatangi dr.Indra di tempatnya menginap yakni di Penginapan Herlina untuk memberitahukan pendarahan yang dialami pasien Aisah tersebut.

Dikarenakan ketika itu lagi larut malam dr.Indra tidak dapat mendatangi pasien di Rumah Sakit yang sedang mengalami pendarahan dan kepada keluarga pasien dr.Indra mengatakan besok pagi saja sebab sudah larut malam, ungkap suami Aisyah, Agus Salim kepada wartawan.

Namun setelah pagi harinya 26 April dr.Indra yang telah berjanji akan mendatangi pasien ternyata seharian tidak tampak batang hidungnya di RSUD. Setelah ditunggu tapi tak kunjung dating, Agus Salim lagi-lagi berinisiatif mendatangi dr.Indra di penginapan Herlina tapi apa yang terjadi, dr.Indra telah keluar (Check Out) dari Penginapan Herlina pagi hari itu juga.

Agus Salim dan keluarga pasienpun merasa kecewa terhadap pelayanan RSUD, terlebih kepada dr.Indra yang dianggap di tidak bertanggungjawab atas tindakannya tersebut. Melihat kondisi isterinya setelah dioperasi bedah yang semakin hari semakin tak berdaya dan terus menerus mengalami pendarahan yang ditinggal kabur oleh dr.Indra itu, Agus-pun merasa kesal dan berniat mempublikasikan permasalahan ini melalui media massa.

Pada 03 Mei lalu Agus memanggil wartawan Kolom Investigasi untuk datang ke RSUD Abdul Rivai Tanjung Redeb tempat isterinya dirawat dengan harapan pemberitaan ini dapat diekspos untuk mencari secercah sinar keadilan terhadap keluarganya.

Tim Wartawan Investigasi yang datang ke RSUD ketika itu langsung melakukan pemotretan terhadap pasien Aisah serta melakukan konfirmasi dengan keluarga pasien dan konfirmasi terhadap manajemen RSUD. Sayangnya Direktur RSUD Abdul Rivai dr.Munir saat itu tidak dapat dikonfirmasi karena sedang dinas keluar daerah. Atas nasib buruk pasca operasi yang menimpa Aisyah, ironisnya Sekretaris RSUD Iswahyudi didampingi Kepala Bidang Pelayanan Medik (Yanmed) Murti mengaku belum mengetahui permasalahan ini sebab sejauh ini dirinya belum menerima laporan maupun keluhan dari pihak perawat yang menangani pasien Aisyah, karenanya saat itu pula wartawan langsung mengajak Iswahyudi mengunjungi serta melihat kondisi pasien diruang rawat inap.

Setelah Iswahyudi dan wartawan melihat langsung kondisi pasien yang terbaring kaku diruangannya Iswahyudi langsung menginstruksikan kepada bagian Pelayanan Medik untuk segera melakukan penanganan serius terhadap pasien serta menunjuk salah seorang dokter pengganti dr.Indra yang sudah kabur tersebut.

Lebih lanjut Iswahyudi kepada wartawan mengatakan bahwa RSUD Abdul Rivai saat ini belum memiliki dokter devinitif, tenaga-tenaga dokter yang ada sebagian adalah dokter kontrakan seperti halnya dr.Indra adalah dokter resident yang masih dalam ikatan pendidikan di Unhas Makassar yang dikontrak oleh Pemkab Berau dan didatangkan secara bergantian sekali dalam 2 bulan sesuai dengan Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemkab Berau dengan Institusi Pendidikan Unhas Makassar.

Iswahyudi yang dikonfirmasi diruang kerja berjanji akan membawa permasalahan ini dalam rapat komite medik RSUD Abdul Rivai serta akan berkoordinasi dengan majelis etik jika ditemukan adanya kesalahan yang dilakukan oleh dr.Indra, dan pihak manajemen RSUD akan melakukan Komplaint terhadap institusi pendidikan Unhas di Makassar.



Dr.Indra adalah benar dokter bedah yang saat ini masih menjalani pendidikan akhir di Unhas Makassar namun dr.Indra belum memperoleh predikat sebagai dokter Spesialis Bedah sebab saat ini dirinya masih menempuh pendidikan akhir dan belum di wisuda sebagai dokter Spesialis.

Sementara itu Kepala Bidang Yanmed RSUD Abdul Rivai Murti yang dimintai komentarnya mengatakan telah melakukan kontak ke Unhas Makassar untuk mencari tahu keberadaan dr.Indra serta berupaya melakukan kontak langsung kepada dr.Indra untuk menanyakan pertimbangan-pertimbangan dan alasan alasannya dalam melakukan operasi terhadap pasien yang sudah stadium 4, tapi Murti mengatakan tidak berhasil melakukan kontak dengan dr.Indra.

Ketika wartawan berniat melihat perjanjian kontrak dalam dokumen MoU antara Pemkab Berau dengan Unhas Makassar, Murti tidak bisa menunjukkan dengan alasan bahwa dirinya baru 2 bulan bertugas di RSUD. Selain itu kata Murti, MoU tersebut di simpan oleh salah seorang stafnya yang sedang berangkat dinas keluar daerah dan dirinya tidak mengetahui disimpan dimana MoU tersebut oleh stafnya.

Namun ketika Wartawan mencoba menggali informasi tentang perjanjian kontrak atau MoU antara Pemkab Berau dengan Institusi Pendidikan Unhas Makassar dengan mendatangi Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Berau ternyata dokumen MoU dan Daftar nama – nama dokter kontrakan tersebut tidak ditemukan dokumen arsipnya sebab selama ini pula pihak RSUD tidak pernah mengirim tembusan dokumen MoU tersebut ke Dinas Kesehatan.

Informasi lebih lanjut yang diperoleh wartawan dari petugas resepsionis Penginapan Herlina Tanjung Redeb diketahui bahwa dr.Indra check out dari Penginapan hari minggu pagi 26 April 2009 selanjutnya informasi yang didapat wartawan dari staf RSUD diketahui bahwa dr.Indra berangkat dari Tanjung Redeb Berau menuju Makassar hari rabu 29 April 2009.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dr.Indra keburu Check Out dari Penginapan untuk menghindari komplain keluarga pasien, selain itu besar kemungkinan dr.Indra juga sengaja check out lebih awal dari penginapan karena tidak ingin mempertanggungjawabkan tindakannya yang diduga telah mengarah kepada tindakan Malpraktek.

Agus Salim yang sudah terlanjur kecewa terhadap pelayanan RSUD dan tindakan arogan dr.Indra pada 04 Mei 2009 lalu pukul 14.00 Wita, terpaksa meminta kepada dokter RSUD untuk mengeluarkan isterinya dari Rumah Sakit. Saat itu pula pasien Siti Aisah dapat dibawa pulang oleh keluarganya, namun setelah sampai dirumahnya, Siti Aisah pada hari itu juga menghembuskan napas terakhir pada pukul 18.00 Wita. **(Tim Investigasi)|p05t1n6 by: 541f|_|L

Tidak ada komentar:

Posting Komentar